Kamis, 08 Desember 2011

Cerpen Ibu (Kasih Ibu Tiada Akhir)

Pada kabar sebelumnya sempat saya sajikan Puisi Untuk Ibu, yang saya persembahkan dan saya khususkan Special menyambut hari Ibu, dan ini sebagai wujud rasa sayang kami (anak) pada sosok Ibu yang telah Tuhan jadikan antara dalam bentuk lahiriah terlahirnya kami (anak) ke bumi ini. kasihmu tiada henti, juga tanpa pamrih beriring rasa kasih dan sayang yang penuh ketulusan. Melalui momen ini kami ucapkan "Selamat hari Ibu" untuk Ibu, dan Para Ibu seDunia. Ibu, Ibu... Kasihmu tiada tara, kasihmu tiada henti...

Kasih Ibu Tiada Ahir
Alur kisah ini di ambil dari salah satu riwayat penulisnya, kalau pun ada kesamaan alur cerita pada tiap kata atau cerita yang ada itu hanya bersipat kebetulan saja, dan kami mohon maaf.

Terkisah dalam satu keluarga sederhana di sebuah pedesaan, terlahirnya bayi mungil yang terlahir sempurna tiada cacat atau cedra setitik pun. Bayi itu tumbuh besar dalam dekapan Ibu dan Ayah yang menyayangi.Ringkas ceritanya terkisah pada satu keadaan dimana seorang bapa harus pergi merantau ke kalimantan untuk mencari nafkah, saat itu anak laki-laki yang tumbuh besar itu tengah belajar di SMP kelas 3. Kekurangan biaya membuat keadaan dan memaksa anak itu untuk banting tulang membantu ibunya di kebun mencari kayu bakar dan menanam tumbuh-tumbuhan dan sayur-sayuran.

Pada suatu hari (pagi-pagi), Mah rasanya gak enak badan niih, Ibunya menjawab; kenapa? gak tau nih mah kaki ko pegel-pegel, ya sudah gak usah berangkat sekolah saja jawab ibunya... tanggung mah berangkat aja aah, ya sudah sarapan duluu giih.. ibunya menyuruh untuk sarapan pagi, entar aja di sekolah mah, ya udah entar pulang sekolah jangan main jauh-jauh, nyari kayu bakar dan jangan lupa shalat juga, ucap ibunya, iya mah, berangkat dulu yah... Assalamualaikum...! ucap anak itu pamitan pada ibunya, waalaikumsalam, hati-hati... jawab ibunya.

Ringkas cerita; Sepulang sekolah anak itu lupa dengan apa yang di suruh ibunya yaitu mencari kayu bakar, malah pas tengah di perjalanan menuju mesjid untuk melaksanakan shalat Ashar dia di ajak temannya untuk menemani ke kakenya, anak itu nurut aja, dan dia pun lupa dengan maksud awal untuk melaksanakan shalat ashar,.. Ringkas cerita sepulang dari rumah kake temannya di tengah perjalanan mengalami kecelakaan, yaitu motor yang di kendarainya tabrakan sama mobil bak yang tengah melintas berlawanan arah, dan kaki kanan anak itu patah, dan yang satu lagi di bawa ke rumah sakit karena mengalami pendarahan.

Dan anak itu di bawa ke rumah warga terdekat, setibanya malam mamahnya dan keluarga datang, ibunya menangisi dan memeluk-meluk anaknya yang tengah kesakitan. Ibunya bilang, kenapaa? kenapa bisa gini??? sambil nangis, coba nurut sama mamah pasti gak bakalan jadi seperti ini. Iya maah, maaf... jawab anaknya sambil nangis dan meringis kesakitan...

Ringkas cerita; anak itu di bawa ke rumah kakenya yang terdekat. hari demi hari ibu jadi gak bisa kemana-mana, karena harus merawat anak itu karena memang kaki bagian kanannya patah. Dengan penuh kasih dan ketulusan ibunya merawat dari mulai mengganti baju, menyuapi makanan, minuman, membuang kotoran, dll, itu di lakukan ibunya setiap hari tanpa mengeluh. Sampai ahir dimana anak itu bisa berjalan lagi walau memang gak bisa sempurna seperti biasanya dulu, ibunya bersusah payah mencari bantuan materi, untuk kelangsungan pengobatan anaknya.

Dan semua kisah itu harus di lalui seorang ibu sendiri. hingga saat anak itu tengah menjalani ujian ahir nasional (UAN) SMP kelas 3, ibu berpuasa untuk anaknya, dan pada hasil ahir menentukan anak itu lulus dengan hasil baik walau sebelumnya beberapa bulan gak bisa masuk sekolah. semua upaya-upaya lahiriah dan batiniah seorang ibu berbuah hasil yang memuaskan, dan anak itu memeluk ibunya sambil nagis, "terima kasih ibu...!? sambil nangis.

Nah itulah sepintas riwayat atau kisah kasih sayang ibu pada anaknya yang penuh dengan kasih sayang dan penuh ketulusan. Mohon maaf atas kekurangan dalam berbahasa, penerapan cerita dan lain-lainya, karena memang saya masih dalam proses pembelajaran. Semoga sepenggal kisah ini menjadikan terlahirnya sebuah inspirasi buat kita sebagai anak yang terlahir, dan berhutang budi sangat besar pada sosok seorang ibu. Dan saya ucapkan "SELAMAT HARI IBU" untuk Ibu Sedunia... Semoga Tuhan senantiasa memberi jalan dan kemudahan-kemudahan dalam hal apapun, Aamiin. My Memory 2001-2002.

Label:

Minggu, 06 November 2011

Cerpen Budaya : TELUH

Jadilah.com - Ibu Sarmi termasuk salah satu korban dari ulah tukang teluh, entah siapa yang menyuruh dukun teluh itu beraksi. Bu sarmi hanya mampu merintih kesakitan pada sekitar perutnya, yang kian hari semakin membesar tanpa sebab. Pernah suatu saat keluarganya memeriksakannya ke dokter. "Bu sarmi sebenarnya baik-baik saja, saya bingung dengan perutnya yang membesar, padahal bukan tumor atau penyakit lain! Tapi, untuk penahan rasa sakit saya akan berikan resepnya "ujar dokter. Dokter tidak memponis apapun pada bu sarmi. pengobatan alternatip menjadi sasaran penyembuhan sakit bu sarmi selanjutnya.

Ramuan akar-akaran menjadi resep utama pada pengobatan kali ini. Namun masih seperti semula bahwa tak terlihat hasil yang memuaskan. Entah ada macam obat-obatan yang menumpuk di pinggir kamarnya. "Din, ibu sudah bosan dengan semua ini, obat-obatan ini bukan untuk menyembuhkan, tapi sebaliknya ini semua akan membunuh ibu." Ungkap bu sarmi kepada anak semata wayangnya, sambil menahan sakit yang tiada tara, "ibu jangan berkata seperti itu, ibu pasti sembuh. Kita semua akan terus membantu mengembalikan kesehatan ibu seperti dulu. "tiada henti-hentinya udin memberikan harapan harapan dalam setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya. Suatu saat udin mendapat saran dari tetangga sekitar, ada seorang ustadz mampu menyembuhkan penyakit yang tidak jelas. seperti penyakit yang di derita ibu sarmi. udi pun segera meminta alamat ustadz tersebut. "Assalamualaikum," sambbil mengetuk pintu Ia pun mulai mengintip pada kaca jendela yang berwarna gelap.

Sekali lagi udin mengetik pintu, dan mulai terbuka. Tampak wanita muda berjilbab menjumpai sambil menggendong anaknya. Wanita itu mengerutkan dahi, kemudian tersenyum simpyl kepada udin, "Assalamualaikum bu, apa benar ini rumahnya ustadz harun? Tanya udin, "Waalaikumsalam, Benar sekali memang rumahnya ustadz harun! Silahkan masuk, silahkan duduk, dan tunggu sebentar, Ustadz sedang sembahyang Ashar dulu." Wanita berjilbab itupun segera berlalu. memanggil suaminya yang tak lain ialah ustad harun. Lima belas menit berlalu, ustad harun segera menuju ruangan depan, dan mulai menghampiri tamu yang sedang menunggunya.

"Assalamualaikum pa ustadz," udin pun segera mengulurkan tangannya bersalaman. "Waalaikumsalam, silahkan duduk pak, ada keperluan apa datang kemari? "ustadz harun bertanya guna meminta penjelasan tentang kedatangan udin ke rumahnya. Tak lama udin pun menceritakan masalah yang Ia hadapi selama ini. "kalau boleh tau apa pekerjaan ibu anda dulu? Dan kenapa ibu anda bercerai dengansuaminya yang ke empat? pertanyaan yang bertubi-tubi itu udin jawab dengan tegas. Ibu saya adalah seorang rentenir, dan ibu saya bercerai dengan suaminya yang keempat,

karena suaminya selalu menyiksa ibu saya pak ustadz,Ia seorang pengangguran tanpa seorang anak satupun. Karena suaminya yang keempat ini masih terbilang muda, setiap hari kerjanya hanya berjudi dan jika ibu tidak memberikan uang untuknya tamparan dan tendangan yang selalu ibu saya dapatkan pak ustadz. Mendengar cerita udin dan keluarganya, pa ustadz hanya manggut-manggut dan beristighfar. "Besok siang saya akan datang ke rumah anda," ujar ustadz harun singkat.

Pembicaraan pun selesai, dan mereka lantas berjabat tangan. Udin segera bergegas pergi meninggalkan pak ustadz. Jarum jam sudah menunjukan pukul 13:25. Keluarga bu sarmi tak pernah jenuh menunggu ustadz Harun. Tak lama selang beberapa menit kemudian ustadz yang di harapkan telah tiba di kediaman bu sarmi. Tidak seperti buasanya, saat itu bu sarmi tengah tertidur lelap. Dengan santai ustadz Harun mendekati bu sarmi sambil memegang perutnya. entah apa yang ustadz lafalkan saat itu, tiba-tiba saja ibu sarmi yang tertidur lelap saat itu mendadak membukakan matanya dengan pandangan kosong. Pandangan terus terpaku pada langit-langit.

Tiada kedip sedetikpun pada masa bu sarmi,dan ustadz terus memegang perut bu sarmi sambil mengucap Asma-asma Allah swt. Semakin lama tangan ustadz Harun bergetar, lalu tak lama kemudian ustadz terpelanting begitu saja. Subhanallah, sambil jatuh terpental, ustadz Harun mengucap keringat di wajah dengan telapak tangannya. Dan, mata bu sarmi pun terpejam lagi, seperti sebelumnyatertidur pulas. "Ma'af pak udin, bolehkah kita berbicara sebentar? tp tidak disini." bisik ustadz Harun mendadak menjadi lebih tegang. "Tentu ustadz, mari kita ke ruang depan," kata udin. Lantas keduanya bergegas meninggalkan ruangan itu. Mereka berdua kembali membahas penyakit misterius ini. "Ma'af pak udin, saya ingin bertanya tentang keberadaan suami keempat bu sarmi dan apakah suami pertama dan ketiga bu sarmi bersikap seperti suaminya yang keempat?

Lagi-lagi tanya jawab berlangsung dalam suasana mencekam demi terkuaknya kebenaran. "Setahu saya, suami ibu sudah lama meninggalkan rumah, sesudah ibu menceraikannya.Pertamanya memang sulit tuk menceraikan suaminya yang keempat itu, tapi lama-lama ia terima keputusan dari ibu saya, dengan syarat setengah bagian dari kekayaan ibu harus menjadi miliknya. Dan, itu tidak masuk akal untuk saya. dia juga berkata jika tidak di lakukan syarat-syarat itu maka akan ada pembalasan dari dirinya. Hingga saat ini kami tidak tau ia sekarang. Untuk suami pertama dan ke-3, mereka meninggal karena sakit dan karena memang usia yang sudah uzur! "Apakah bu sarmi sudah berhenti dari pekerjaannya sebagai rentenir sebelum sakit?" tanya ustadz.

"Setahu saya, ada lima orang yang belum melunasi pinjaman dari ibu. Walaupun begitu, ibu masih bisa memberikan penangguhan waktu tapi memang bunga pembayaran akan semakin besar! ustadz, saya baru tahu bahwa ibu bekerja seperti itu setelah 5 tahun saya bekerja di Surabaya. Dan baru datang 2bulan lalu kembali ke cirebon. Saya selalu berfikirapa yang saya makan selama sekolah di Surabaya adalah uang haram!" sesal udin. "Allah akan terus membuka jalan bagi orang-orang yang sungguh-sunggguh memperbaiki segalanya. Tak baik terlalu berlama-lama dalam kekalutan. Uang yang sudah di pinjamkan kepada 5 orang itu harus di ikhlaskan. Apalagi jika mereka memang benar-benar dari kalangan lemah ekonominya. Dan minta ma'aflah pada mereka!" kata ustadz Harun.Udin pun mencari kelima orang ibunya, ia menjelaskan secara tegas, dan mereka mau memaafkan bu sarmi dengan ikhlas.

"Bu bagaimana keadaan sekarang? ma'af kami baru di beritahu oleh anak ibu, kalau tahu sakit seperti ini pasti kami akan sering menjenguk!" kata salah satu dari lima orang korban renten itu. Bu sarmi hanya mampu berkaca-kaca dan bibirnya bergetar. "Terimakasih, Ibu-ibu semua mau menjenguk saya, saya mohon ma'af yang sebesar-besarnya atas kesalahan yang telah di lakukan, saya sudah lelah dengan semua ini. Jika memang besok saya harus menghadap-Nya, saya harus siap merima keputusan dari sang kholik kelak. Untuk meringankan beban beban di hati dan Ibadah saya dengan amat sangat saya mengharapkan kesudian Ibu-ibu untuk memaafkan setiap kesalahan yang dulu pernah saya perbuat?" harap bu sarmi. "Sudah bu sarmi, kamipun seharusnya berterima kasih atas pinjaman dan tangguhan untuk kami. dan kami pun harus bisa menjalankan resikonya. yang penting cepet sembuh ya bu.." salah seorang bekas korban.

Mereka pun pergi berlalu, tanpa mengisakkan dendam, menandakan beban di masa lalu mulai terasa ringan di benak bu sarmi. Hari itu bu sarmi merintih kembali sakit yang semakin dahsyat. bergegaslah udin membawa air do'a dari ustadz Harun sambil membacakan syahadat di dekat telinganya. Airpun di minumkan pada bu sarmi. Sakit yang Ibu sarmi rasakan lambat laun mulai tak terasa, lalu kembali tertidur pulas. dan tak bangun lagi. Hingga saat ini kematian bu sarmi tetap menjadi misteri. Apakah benar selama ini Ia telah di "Teluh" atau apakah benar suaminya yang keempat itu adalah dalang dari kematian Bu Sarmi?***

THE END...
Sungguh manusia tiada daya dan upaya... Berpasrah dirilah hanya pada Allah... Subhannallah, semoga kisah di atas bisa menggugahkan pikiran, budi, dan rasa kita, untuk lebih mendekatkan diri pada dzat IllahiRobbi... Hanya oleh-Nya kita begini, disini, hanya pada-Nya kita kembali. Semoga bermanfaat. Sumber : Tulisannya Welly.

Label:

Kamis, 14 Juli 2011

Kisah Cinta - Cukup Lima Menit

Jadilah.com - Nah, yang berikut ini lain lagi ceritanya. Yang ini di angkat dari salah satu pengalaman teman kita (Sara, 17, Bandung). Disini di ceritakan tentang pengalamannya tentang ungkapan rasa yang cukup singkat, lima menit lhoo, pernah gak kamu-kamu ngalamin hal yang sama? kalo pun pernah gak ada salahnya tuker pengalaman kan, ^^ Siapa tau aja setelah membaca cerita ini kamu-kamu bisa mendapatkan inspirasi atau hal yang positip yang bisa membuka pikiranmu untuk lebih kreatip dalam mendapatkan sesuatu, atau mendapatkan jawaban iya dari orang yang kamu suka.

Kisah Cinta - Cukup Lima Menit
Sara ketemu cowok ini baru satu kali. Namun, meki satu kali, dia ninggalin kesan yang kurang ajar banget gitu. Tapi, rasa seneng juga sih. Ceritanya sekitar sebulan yang lalu, saat Sara bareng Novi janjian nonton bareng di 21. Kebetulan ada film bagus, hmm, Alex dan Ema. Dewasa banget nggak sih filmnya? Kita udah janjian nonton bareng seminggu sebelumnya. Sara pikir kita aja yang tau kan, eh, si Dino, masih temen deket kita juga sih, maksa ikut ama kita. Ya udah, lagian dia janji mau beliin kita ice krim. Lumayan.

Hari minggu di sepakati kita bakalan nonton film yang jam satu. Mall yang sering di datengi anak muda Bandung rame banget hari minggu itu. Untung Sara ama Novi saling samper, jadi nggak ribet kalo ketemuan di Mall. Yang payah ya si Dino ini, di tungguin di lantai 4 udah setengah jam belum nongol juga. Udah di Misscall, di sms -in, gak ada kabar juga. Loket udah buka, antriannya lumayan juga. Lima belas menit lagi film mau di puter.

"Lima menit lagi kita tungguin, kalo si Dino gak nongol juga, kita tinggal aja yah. Heran deh tuh anak, kemana sih?" kata Novi kesal. "Nggak jelas emang tuh anak," timpal sara. "Hei...sori..sori," tiba-tiba Dino muncul dari pintu lift. Dia gak sendirian. "Eh, Sar,Nov, kenalin temen gue Deni," Dino menunjuk ke arah temannya.
Tanpa basa-basi, Deni menjabat tangan kami satu persatu.

"Cepetan ah, dah telat nih,"Novi mengingatkan. "duitnya dari gue aja," kata Dino. Sementara Dino ama Novi beli tiket. Sara di tinggalin ama si Deni. Eh, anaknya "Teh" cuco juga...hihi. Dandanannya ala skater gitu deh. "Kamu satu kelas ama Dino?" tanyanya. "Iya, eh kamu sekolah dimana?" "SMU X." "Eh, aku juga punya teman disitu lho..." "Yang bener? namanya siapa?" Emm Leni, anak kelas Dua berapa yah...yah?"
"Leni yang yang cheerleaders itu 'kan itu kan?"

"Hm...bukan...bukan..eh apa iya? Lupa ah," "Punya temen ko di lupain," sindirnya. "Ih, siapa yang ngelupain, ya kalo dia udah jadi cheerleaders sekarang, ya gue mana tau," saut Sara ketus. "Kok cemberut...eh kamu manis deh kalo cemberut, sumpah, hehe," "Aduh, please dong. jangan ngegombal siang-siang," "Beneran...aku mau jadi pacar kamu. Kamu mau gak?" "Apa?" Sara kaget ama ucapan Deni barusan. "Deni suka kamu..."

Dino ama Novi ngajak langsung masuk ke studio. "Ayo cepetan," kata Novi tanpa nyamperin terlebih dahulu. Sambil jalan, "Kamu kok bisa sih ngomong gitu? kenal aja baru lima menit yang lalu, aneh banget," Sara berusaha tegas, meski jantungnya gemeteran. Di dalam bioskop, Sara jadi gak konsen gitu 'kan. Pe-de banget deh si Deni ini. Iiiih, apalagi dia duduknya di sebelahku lagi. Film kemana, pikiran kemana.

Tapi dia cute...gimana dong? "Sar, gimana?" bisik Deni ama Sara. "Gimana apanya?" balasku. "Jawaban kamu..." "Duh...udah deh, lagi nonton nih," "Kita 'kan bisa nonton lagi ntar kalo udah jadian," "Sssstttt...." bisik Novi. "Kamu tuh... kurang ajar banget sih?" Perasaan Sara campur aduk banget. Malah jadi pingin (Pepsi) pipis nih. Adunh Novi bantuin gue, Dino ajak minggat deh temen kamu ini, Sayang mereka gak bisa denger jeritan hati Sara.

Tamat.
Nah itu itu dia cerita teman kita Sara, yang ngalamin cerita cinta yang bikin dia kebingungan abis, yang pada akhirnya mereka jadian deh. Semoga bermanfaat.

Label:

Rabu, 13 Juli 2011

Cerita Cinta - Nembak Di Depan Kelas

Jadilah.com - Berikut ini adalah cerita nyata yang di ambil dari pengalaman (Yanuar, 18, Bandung) yang sempat menuliskannya di sebuah bukukatakan cinta yang sempat saya baca. Setelah saya baca, ternyata mengandung berbagai macam hikmah yang bisa di ambil sebagai inspirasi kamu-kamu yang mungkin mempunyai hal atau cerita yang serupa. nah berikut pemaparan ceritanya.

Ini pengalaman gua satu tahun kebelakang, saat gua jadian sama Nia cewek cewek gue sekarang. Gue kenal dia sejak gue satu kelas sama dia. Anaknya agak pendiam. Bertolak belakang banget ama gue. Sekian bulan ketemu di kelas, rasanya gak ada perasaan aneh. Sampai suatu saat, kita satu kelompok di lab Biologi. Oh ya gue lupa ngasih tau, kalo gue punya hoby gambar komik. Buku-buku gue pasti habis gue gambarin, bentuk komiknya sih cenderung anime bangetlah. Nah, tanpa gue sadari, Nia sepanjang praktekum serius merhatiin kebiasaan gue menggambar saat pelajaran berlangsung.
"Yan, coba liat dong,"tiba-tiba suara pelan Nia terdengar. Gua kaget, "Liat apaan Nia?" jawab gue kayak orang goblok. "Itu gambar-gambar kamu," katanya sambil menunjuk buku catatan biologiku. Tanpa banyak cakap, gue serahin tuh buku, meski gue masih heran dengan sikap Nia yang mendadak lain itu. Setelah kelas habis, sikap Nia makin bikin gue bingung, sambil senyum-senyum, dia nyodorin buku gue. "Yan, gambar-gambar kamu bagus-bagus banget. Belajar dimana?" sejak kapan kamu bisa gambar?" Berondongnya.
Tiba-tiba ada semacam magnet dalam dada gua yang memaksa gua untuk meluangkan waktu untuk ngobrol bareng dia. Sesuatu yang belum pernah di lakukan sebelumnya. Ternyata anaknya asyik di ajak ngobrol soal komik dan anime. Gila, freaks juga doi. Dari situ, gua mulai sering deket sama dia. Kita sering jalan bareng ke gramedia cuma buat ngecek komik-komik baru. SMS-an. Pinjem-pinjeman majalah animonster. Cekikikan bareng di kantin sekolah saat mengulas film-film kartun minggu pagi di televisi.
Gosip kita pacaran mulai santer deh. Eh, pacaran? jadian aj belum. Tapi gua kepikiran juga. Entah gimana yah ngungkapinnya, rasa suka itu mulai datang tiba-tiba. Makin lama makin ganggu gua. Sehari saja gak ngobrol bareng Nia, gimana gitu yah... bingung euy. Gua yakin gua mulai jatuh cinta ama itu anak. Temen-temen udah mulai nyaranin gua nembak Nia. Beuh... nembak? Meski so nolak lama-lama kepikiran juga. Gua harus nembak dia, dari waktu pendekatan sih lumayan udah cukup.
Empat bulanan atuh. Nah saat gua nembak ini yang unik. Spontan kejadiannya saat praktikum biologi. Nia keliatan cakep banget hari itu. "Yan, kamu bisa di dikte-kan soal-soal buat PR minggu depan?" suara bu guru bikin gua kaget. Tanpa basa-basi gua jawab iya. "Kamu bacain di meja Ibu, ibu mau ke kantor sebentar," perintahnya. Oke. Ada 10 soal yang harus gua dikte-in ama temen-temen. Soal no satu,dua,tiga, empat...tiba-tiba, "duh,...euuu" ",..." Yan lanjutin euy!! sahut teman-teman. "Bentar", jawabku.
Kemudian gua lanjutin juga. Oke, Lima, dan "Nia aku mau ngomong ama kamu," cetusku tiba-tiba, "Huuuuu, ' kelas mulai gaduh. Nia terlihat kebingungan. "Setelah apa yang kita lewati bersama, aku merasa perlu ngungkapin ini ama kamu," lanjutku. Tentu saja gua da-dig-dug abis. Kelas semakin gaduh, Nia menutup mukanya dengan buku. "Nia, aku suka kamu!!!" kataku setengah memekik. "Horeeee," teriakan teman-teman semakin menggila. "Ada apa ini?" Bu guru tiba-tiba sudah ada di depan kelas.
"Gk ada apa-apa bu!!!" serempak teman-teman. "Soal no enam.." seolah gk ada apa-apa, gua lanjutin lagi acara mendikte. "Lho baru no enam toh?" bu guru keheranan. Sukses? Belum tentu. Saat istirahat dengan di iringi senyum dan sindiran anak-anak, gua datengin Nia. "Gimana jawabannya Nia??" tanyaku to do point. Anak itu malah senyam-senyum. "Nia aku udah terlanjur ngucap nih, aku minta jawabanmu sekarang, please!!" harapku. Dan, "Oke Yan, tapi cukup sekali saja bikin aku gugup setengah mati kayak di kelas tadi yah?" jawabnya lirih.
Yihaaa...gila gua seneng banget denger jawaban itu. Dan akhirnya gua jadiaan...
Demikian itu lah cerita nyata dari teman kita yang memberanikan dirinya untuk mengungkapkan isi dari perasaannya dalam keadaan yang memang menantang banget.kalau saja kalian punya niat niru temen kita "Yanuar" tadi? Gk ada yang larang koq. Tapi tetap hati-hati. Ibarat permainan catur, strategi yang satu ini memang butuh kepandaian membaca situasi. langkah yang kamu anggap sudah tepat, bisa jadi gk berarti apa-apa. Siap-siap saja menahan kecewa saat si dia menolak tawaran kita. Semoga bermanfaat.

Label: